Rabu, 11 Maret 2009

Persaingan Media :
Eksistensi Media Online berbasis Berita di Indonesia

Abstract :
The emerging of News Portal in Indonesia has been occurred when the Government take the media with their own rule (Breidel). In that moment the people, especially students, use that moment as a part of Indonesian Political rule changed. News Portal in this situasion would be make as a tool for sharing informartion without any restriction from the governtment, and it would be pionereed by suratkabar.com or apakabar.com.
After that situation, News Portal will be as one of the industrial competition media. In this paper, we could see that there is an opportunity for the people or enterpreuner who wants to make a new news portal for adding the competition. The structure for news portal competition would be form as Monopolistic Competition, using the analysis of market share, market concentration (HHI) also using the model of Industrial Competition (Structure – Conduct – Performance), where as no one of the news portal organization take the domination. Because of this structure, the organization of news portal will be making some differences, avoid the “one click away” basic principal, and that can be their strength.

(13 pages + 9 books (1996-2001) + 1 thesis)




I. Pendahuluan :

Salah satu kekuatan media untuk menjamin eksistensinya adalah usaha untuk menggabungkan hubungan antara media, masyarakat, dan negara. Ini seringkali difokuskan kepada kekuatan ekonomi politik dimana dominasi negara sebagai alat pemerintahan, pada negara sedang berkembang (developed country), sangat besar dan kuat, berbeda dengan negara maju (developed country) yang memperlihatkan sebuah perilaku bermedia yang liberal, dimana kontrol bukan dilakukan oleh negara melainkan oleh masyarakat atau audience atau khalayaknya (Free Press).
Kehidupan bermedia pada negara sudah berkembang sudah terfokus kepada sisi ekonomi atau biasa dikenal sebagai sistem ekonomi pasar dimana kekuatan pasar yang menentukan eksistensi media. Media berhasil ketika mengeluarkan pemberitaan yang sesuai dengan kehendak pembacanya, disini terlihat bahwa kepentingan khalayak menjadi kepentingan organisasi media, sedangkan kalau terjadi sebuah pemberitaan yang tidak sesuai dengan kepentingan khalayak, maka pendapatan yang didapat oleh organisasi media, seperti dari iklan, akan berkurang.
Alinea di atas memperlihatkan indikasi dari karakteristik eksistensi organisasi media, pada media tradisional, seperti Televisi, radio, dan surat kabar, maka yang harus terus ada adalah program acara yang sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan khalayak. Kondisi ini sangat berbeda dengan “new media” atau media baru dalam hal ini internet, maka pada media ini yang lebih dipentingkan adalah divergensi dari penayangan fenomena. Pada media internet, eksistensinya dipengaruhi oleh loyalitas pengguna internet (users) dan pemakainya (subcriber).

II. Internet sebagai Media Baru

Secara etimologis “internet” dapat disinonimkan dengan konsep “Information Superhighway” atau dapat dikatakan sebagai jaringan ke jaringan (Network of networks) ; dimana dari satu komputer dapat tersambung dengan komputer lainnya di seluruh dunia, seperti bertukar pesan, berbicara, membagi akses data dan aktivitas lainnya, dengan menggunakan alat modem dan saluran telepon (Straubhaar, 2000 : 5).
Hubungan dengan individu atau kelompok lain di seluruh dunia menggunakan salah satu komponen internet, yaitu World Wide Web (WWW). Di dalam WWW ini juga termasuk sambungan yang dapat digunakan pengguna untuk melakukan navigasi dengan bentuk grafik, audio, dan informasi secara video (tatap muka). Inilah yang disebut sebagai “konvergensi” media, dengan kata konvergensi dapat didefinisikan sebagai penyatuan (integrasi) dari media massa (media tradisional), komputer, dan telekomunikasi menjadi sebuah teknologi umum yang bersistem. Salah satu contoh yang bisa gambarkan mengenai konvergensi media adalah digital televisi – penyatuan antara media televisi dengan internet; atau penulisan berita di internet (on-line news), dan lainnya.
Munculnya internet sebagai media baru telah merubah setiap sendi kehidupan masyarakat suatu negara. Ketika pertama kali manusia mengenal medium adalah melalui suara, alat tulis, kertas, radio, televisi, kemudian internet ; perubahan terjadi. Secara psikologis perubahan dari media tradisional ke media internet merubahan hidup dan aktivitas manusia dari individu yang berkelompok menjadi individu penyendiri.[1] Perubahan lainnya juga terjadi pada gaya hidup khalayaknya dengan munculnya internet adalah pola yang cenderung mengurangi tontonan TV dibandingkan sebelumnya (Miller & Clemente, 1997).
Fenomena internet merupakan sebuah perkembangan media paling pesat sekarang ini. Hampir di semua kehidupan dan aktivitas manusia penggunaan internet terus bertumbuh. Menurut Morgan Stanley Research, penetrasi pengguna internet di seluruh dunia tumbuh sangat cepat dibandingkan dengan khalayak yang menonton Televisi ataupun Radio. Dalam waktu 5 (lima) tahun pengguna internet mencapai 50 juta orang, sementara Radio membutuhkan waktu 38 tahun dan televisi 13 tahun untuk mencapai tingkat tersebut (Fritz dalam Yuliar, 2001:25).
Indikasi lainnya perkembangan internet yang sangat maju adalah dalam dunia usaha dimana jangkauan pasar dari internet sangat luas, efisiensi, dan meningkatnya daya saing perusahaan, inovasi dalam hal ini usaha untuk mengikat pemakai (subscriber) melalui usaha loyalitas atau biasa disebut sebagai “Customer Loyalty”. Pada internet, bila dikaitkan dengan dunia usaha, maka terbentuk beberapa transaksi perdagangan, yaitu Business to Consumer (B2C) serta Business to Business (B2B), Consumer to Consumer (C2C). Menurut perkiraan hingga tahun 2003 ini nilai transaksi perdagangan bisnis ke konsumen (B2C) akan mencapai angka 300 milliar dollar, sedangkan perkiraan untuk transaksi perdagangan bisnis ke bisnis akan mencapai 1,3 trilliun dollar (Fritz dalam Yuliar : 26).
Meningkatnya pengguna internet serta transaksi bisni di dunia tidak terlepas dari meningkatnya jumlah pengguna telepon. Menurut data dari ITU (International Telephone Union), pada tahun 1998, jumlah pengguna telepon di dunia mencapai 750 juta dengan perincian 110 juta terhubung dengan internet dan 150 juta paling tidak menggunakan telepon genggam. Kemudian pada tahun 2001, jumlah pengguna telepon yang terhubung dengan internet meningkat mencapai 300 juta, dan diperkirakan pada tahun 2005 pengguna internet mencapai 1 milyar pengguna (Fritz : 26). Ini sangat jauh dengan pengguna internet di Indonesia hanya sekitar 2 juta pengguna (1 % dari total populasi 200 juta) pada tahun 2000 (Pacific Rekan Prima, 2001 : x) ; dengan pengguna sambungan telepon hanya 7,583,348 sambungan telepon (dari 200 juta) dari kapasitas yang bisa tersambung sebesar 8,462,371 sambungan telepon dimana sekitar 6,207,847 sambungan telepon berada di Jakarta (327,932 telepon umum) (Data TELKOM 2nd Quarter 2000, Pacific : 25).
Data diatas menunjukkan pada tahun 1998 dari 750 juta pengguna telepon hanya 1/6 – nya saja yang menggunakan internet, di seluruh duni sedang di Indonesia hanya sekitar 1 %, memperlihatkan bahwa masih ada “celung” atau “segmen” yang bisa dibidik oleh organisasi media untuk mengambil pengguna pada sektor ini. Dengan pengguna yang sangat besar, maka organisasi media online berbasis berita bisa, bisa menstimuli pengiklan untuk memasuki area media mereka, namun yang harus disadari bahwa terdapat perbedaan prinsipal antara media online dengan media konvensional.
Perbedaan yang bisa ditunjukkan dari kedua media ini, online dan konvensional, adalah kemurahan dalam menerima informasi. Pada media online secara kasar, biaya yang sangat mahal, ditunjukkan dengan biaya penggunaan telepon, serta biaya “koneksi” melalui “Connector” (provider) walau untuk sekarang ini makin berkembang peminimalan penggunaan provider, seperti yang dilakukan oleh TELKOMNETINSTANT (penggabungan antara penggunaan biaya telepon dengan biaya provider).
Pada media konvensional, maka titik pembiayaan yang dikenakan sangat minimal. Media ini tidak memerlukan biaya terlalu besar, bagi konsumennya, untuk membayar sebuah informasi. Harga, misalnya surat kabar, sudah disesuaikan dengan biaya operasional (variable cost) dan keuntungan yang didapat dari jumlah eksemplar yang dicetak. Contoh lainnya, televisi, khalayak atau penonton, juga hanya disuguhi oleh tontonan di layar kaca yang sudah dimilikinya tanpa adanya pembayaran kepada stasiun Televisi tersebut. Namun keuntungan yang diperoleh oleh stasiun Televisi tersebut di dapat dari Iklan karena akumulasi jumlah penonton yang menonton sebuah tayangan yang ditunjukkan oleh ratingnya.
Kelebihan yang dimiliki oleh media online adalah kecepatan berita yang bisa diakses tiap detiknya, bandingkan dengan surat kabar yang bisa didapat informasinya dalam sehari, atau Televisi yang tidak memungkinkan untuk menayangkan berita secara cepat karena keterbatasan dari penyisipan informasi terhadap program acara yang sudah diplot sebelumnya. Namun yang menjadi kelemahan dari media online dibandingkan dengan media konvensional adalah kekuatan dalam meraih pendapatan keuangan dari sektor iklan.
Media konvensional “ditengarai” mempunyai kekuatan dalam meraih jumlah pendapatan iklan yang besar karena efesiensi dan efektivitas dalam meraih jangkauan khalayak yang lebih besar. Kondisi ini disebabkan oleh khalayak yang lebih mudah untuk memperoleh informasi dari media konvensional dibandingkan media online. Misalnya, di daerah pedalaman yang secara umum belum terjangkau jaringan telepon dan minimal sekali, bahkan tidak ada, kepemilikan komputer, bila dibandingkan dengan kepemilikan pesawat Televisi, radio, dan surat kabar, maka terjadi tingkat kesenjangan yang sangat besar. Namun bukan tidak mungkin media online akan menguasai di masa depan dengan prediksi penggunannya yang semakin besar atau 1 milyar pengguna pada tahun 2005.

Media Online sebagai sebuah Industri

Secara etimologis yang disebut sebagai media online adalah penggunaan internet yang menampilkan informasi, baik itu berupa berita, jasa keuangan, jasa pertukaran barang, jasa ramalan cuaca, atau lainnya secara online. Sifat dari media ini adalah interaktif dimana terjadi penggabungan antara media konvensional, baik itu berupa pemberitaan seperti di surat kabar, tayangan visual dan audio seperti pada televisi dan radio, serta teleconference seperti pada media telekomunikasi (Telematika). Kondisi penggabungan ini yang biasa dikenal sebagai “konvergensi” media.
Keberadaan media online ini telah diprediksi akan membuat masyarakat menuju sebuah masyarakat informasi (Information Society) yaitu masyarakat yang memproduksi, memproses, dan mendistribusikan informasi sebagai sebuah sektor industri secara ekonomi dan social (Straubhaar, 2000:27). Indikasi sebagai masyarakat informasi adalah penggunaan waktu difokuskan kepada penggunaan media komunikasi serta teknologi informasi, seperti telepon dan komputer. Kondisi sangat sesuai dengan perkembangan dari tingkat ekonomi sebuah masyarakat, mulai dari masyarakat pertanian (agrikultur), masyarakat industri, kemudian sekarang mencapai masyarakat informasi.
Tahap mencapai masyarakat informasi akan ditandai dengan meningkatnya jumlah organisasi media, pengguna komunikasi media serta meningkatnya jumlah pengeluaran yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan untuk memasarkan perusahaannya melalui sebuah media. Ini biasa disebut sebagai interaksi antara media, masyarakat, dan iklan (perusahaan ataupun negara). Kondisi ini dapat digambarkan seperti dibawah ini :

Ekonomi

Politik



Teknologi
Organisasi Media
Gb. 1. Area Of Media Influences.

Pada gambar diatas sangat jelas terlihat bahwa media tidak terlepas dari sistem negara tempat organisasi media itu berada. Organisasi tidak terlepas dari semua faktor lingkungan eksternal, baik itu berupa sisi ekonomi, seperti pesaing, tingkat valuasi nilai mata uang, iklan, atau perkembangan teknologi, seperti telepon nirkabel, handphone dan juga pada sektor politik atau sistem pemerintahan yang sedang berkuasa.

Sisi Politik dari Organisasi Media online di Indonesia

Media online pertama di Indonesia muncul sebagai media alternatif perjuangan mahasiswa pada jaman Soeharto untuk merencanakan gerakan dan mengukur dukungan internasional dalam membangun demonstrasi yang besar dengan tujuan akhir menjatuhkan rezim Soeharto (Sen & Hill, 2000 : 227).
Penggunaan internet sebagai media perjuangan terjadi karena banyaknya pembreidelan dari media konvensional terhadap setiap informasi yang berlawanan dengan kepentingan Pemerintah berkuasa, seperti pembreidelan Tempo, Detak, dan lainnya. Kondisi kedua yang diperoleh dari pemberitaan melalui media online adalah informasi yang diberitakan tidak lagi butuh sensor dari Pemerintah karena sifatnya yang individual.
Media Online pertama yang muncul di Indonesia adalah apakabar.com yang di moderatori oleh John Mcdougall dari Maryland, Amerika Serikat dimana media ini difungsikan sebagai milis (diskusi lewat email) ; kemudian muncul media online pertama berbasis berita, yaitu detik.com, Tempo interaktif, Kompas Cyber Media, dan lainnya.

Teknologi dan Ekonomi Media Online

Evan I Schwartz, mengatakan bahwa pada sebuah Web (Jaringan), jumlah informasi yang disediakan untuk pengakses akan lebih banyak, maka pengakses harus memberikan lebih dan sebagai kebalikannya pengakses akan mendapatkan lebih (Webonomics, 1997 : 75). Pernyataan ini sesuai dengan jumlah pengakses yang bisa dilihat pada portal Detikcom dimana jumlah pengakses pada awal berdirinya adalah 363.000 pageviews per hari, kemudian bertambah menjadi 735.000 pageviews[2] per hari pada tahun 2000.
Pertambahan jumlah pengakses ini diharapkan dapat meningkatkan tawaran tingkat pengiklan. Pertambahan ini juga memperlihatkan bahwa sebuah situs disenangi, sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan pengakses karena kinerja organisasi media online yang baik atau memberikan informasi yang lebih kepada pengakses sehingga pengakses menjadi loyal terhadap organisasi tersebut.
Loyalitas pengakses dapat dikatakan sebagai asset sebuah organisasi media, karena dengan loyalitas tersebut diketahui bahwa pengakses akan tetap melihat situs tersebut. Kondisi ini akan juga mempengaruhi struktur persaingan media online berbasis berita (portal berita) karena pengiklan untuk media online ini untuk saat ini tidak melihat dari profil pengaksesnya yang tersegmen namun lebih melihat berapa besar jangkauan yang bisa pengiklan peroleh untuk mengiklankan produknya.
Perbandingan yang bisa kita perlihatkan pada struktur persaingan bahwa sifat media off line (konvensional) lebih mahal biaya yang dikeluarkan sehingga pesaing yang masuk pada industri ini akan sangat sedikit. Sedangkan pada media online, berbiaya murah dan bisa dilakukan di segala tempat, maka pesaing yang bisa memasuki industri ini akan sangat banyak sehingga akan memungkinkan struktur pasar menuju ke arah persaingan atau seperti yang dikatakan oleh Rhenald Khasali, PC Media : 2000, bahwa model industri media online berkarakteristik Business to Consumer (B2C) adalah model yang mudah ditiru.
Kondisi ini digambarkan dengan sangat baik oleh Mary Modahl dalam bukunya Now or Never, 2000 : 102, bahwa perusahaan kecil berusaha masuk ke arah persaingan perusahaan yang lebih besar dan perusahaan besar akan kehilangan pangsa pasarnya. Kondisi ini memperlihatkan bahwa persaingan pada industri media online sangat ketat.
Sedangkan model pendapatan portal berita itu sendiri merupakan interaksi dari akses, transaksi, iklan, langganan atau kombinasi dari keempatnya. Model pendapatan portal berita itu dapat dijelaskan dari model Booz & Allen Hamilton.Inc, 2000. Pada model dibawah dapat dijelaskan bahwa perusahaan portal berita sangat tergantung dari content/isi berita atau kualitas informasi yang ditayangkan. Dengan berita yang berkualitas atau sesuai dengan kepentingan, kebutuhan serta “proximitas” dengan pengaksesnya dapat diharapkan terbentuk loyalitas pengakses.

Gambar 2. Model Pendapatan Portal Berita
Organisasi Portal BeritaIsi Berita
Subcriber
Non-subscriber
Pendapatan
Iklan
Sharing
Pengakses
Lisensi Content





Sumber. Booz & Allen Hamilton, Inc 2000 beserta olahan hasil penelitian.

Sudah disebutkan diatas bahwa pendapatan, portal berita, tergantung dari kualitas isi beritanya. Sedang isi berita tergantung dari cara pandang organisasi media yang juga merupakan kerangka berpijak bagi operasionalisasi organisasi media. Paradigma atau cara pandang media terhadap isi pemberitaan dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian yaitu paradigma propaganda dan paradigma kehidupan dinamis masyarakat atau khalayaknya (Siregar, November 1997). Kedua paradigma ini selalu menekankan kepada kebutuhan khalayak atau pengguna terutama cara pandang kedua, paradigma kehidupan dinamis masyarakat.
Makin sesuai isi pemberitaan dengan kebutuhan pengakses akan semakin membuat loyalitas pengakses terhadap portal berita tersebut menjadi lebih kuat. Ini sesuai dengan gambaran yang diberikan oleh Hagel & Amstrong, 1997 : 52.

Contributions to member-generated content
Member Community
Member Loyalty
Hours of Usage
Member Relationship

Member Churn Rate
Customized interaction

Gb.2. Model Loyalitas, Hagel and Amstrong, 1997.

Struktur Persaingan dan Kinerja Portal Berita

Penelitian mengenai persaingan portal berita di Indonesia, dilakukan pada 8 (delapan) portal berita, seperti Detikcom, Kompas Cyber Media, Lippo star, Mandiri.com, berpolitik.com, satunet.com, ekspos.net, dan koridor,com, terhadap halaman depan (front page) dari masing-masing portal berita terhadap pendapatan iklan pada halaman depan dari tahun 2000-2001, menunjukkan bahwa pangsa pasar (market share) dari industri portal berita tersebut dikuasai sebesar 47,72 % pada bulan Juni 2001 oleh Detikcom diikuti oleh Kompas Cyber Media sebesar 29,20 % (B.Arnold.S, Thesis : 2001).
Hasil pangsa pasar ini menunjukkan bahwa struktur pasar cenderung menuju arah monopoli atau penguasaan pasar oleh satu atau dua perusahaan, ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Shepherd, 1997 : 16, bahwa perusahaan yang memiliki pangsa pasar lebih dari 40 % menujukkan struktur pasar menuju arah monopoli, namun dilihat dari kepemilikan organisasi, maka hal tersebut dapat dihindari sehingga struktur persaingan cenderung kepada arah monopolistic dan akan terjadi pengurangan besaran pangsa pasar secara bertahap (slowly).
Kemudian menurut analisis konsentrasi pasar memperlihatkan bahwa konsentrasi pasarnya berbentuk “tight oligopoly” ditunjukkan dengan nilai Index Hierschman Herfindahl (IHH) melebihi 1800. Karakteristik pada struktur pasar “tight oligopoly” ini adalah hanya ada beberapa perusahaan yang menguasai pasar, detikcom pada bulan desember 2000 meraih 45,09 % kemudian turun menjadi 29,08 % (IHH=845,44) dan bertindak saling menguntungkan diantara perusahaan-perusahaan besar (Shepherd, 1997:74). Adapun penghitungan IHH dapat dijelaskan dengan menggunakan perhitungan :
n
IHH = S (x)²
I = 1

Hasil penelitian yang menunjukkan karakteristik oligopoly ketat sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Atkin (1992) pada industri tayangan kabel dimana penguasaan pasar hanya terfokus pada 4 (empat) perusahaan besar yang beraktivitas pada bidang ini, yaitu Time Warner, Viacom, Disney, dan TCI sehingga setelah dikalkulasi konsentrasi pasar keempat perusahaan besar ini adalah 85 %.
Perhitungan yang dilakukan sehingga mengambil kesimpulan bahwa struktur pasar berbentuk oligopoly ketat diambil dari standar bahwa jika HHI (IHH) berada di atas 1800, maka persaingan menuju arah monopoli sedangkan kalau berada di bawah 1800 maka persaingan cenderung menuju arah persaingan sempurna (Albarran, 1996 : 111).
Hasil dari pengamatan terhadap kinerja portal berita dengan melihat interaksi antara pengakses dan pendapatan menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jumlah pengakses dengan pendapatan iklan. Ini ditunjukkan dari penurunan konsentrasi pasar organisasi media online dari 49 % ke 29 % padahal pada tahap ini terjadi peningkatan jumlah pengakses. Ini sesuai seperti yang dikatakan Straubhaar & La Rose, 2001, bahwa pada sebuah Majalah semakin besar sirkulasi makin besar pendapatan, namun tidak terbukti karena pada majalah Modern Maturity dengan sirkulasi 20,535,786 menghasilkan pendapatan $ 59,460,589, bandingkan dengan sirkulasi Reader Digest sebesar 15,072,260 menghasilkan $ 402,973,357, lalu bandingkan lagi dengan pendapatan majalah Time dengan sirkulasi 4,102,168 menghasilkan pendapatan $ 436,623,516.
Pangsa Pasar dan konsetrasi pasar menunjukkan struktur pasar yang cenderung menuju arah monopoli sedangkan kinerja menunjukkan ketidakterkaitan antara pengakses dengan pendapatan dari iklan. Sedangkan hubungan antara struktur pasar dengan kinerja mengindikasikan bahwa rata-rata pendapatan per pengakses terjadi persaingan yang diperlihatkan dengan penurunan rata-rata pendapatan per pengakses. Menurut Shepherd : 1997, bahwa struktur persaingan akan semakin efisien, menuju arah persaingan, ditunjukkan dengan penurunan rata-rata pendapatan per pengakses. Ini juga menandakan bahwa pertumbuhan akan menurunkan konsentrasi pasar dan berdampak kepada hambatan masuk yang makin besar.
Indikasi ini dapat diperlihatkan bahwa pendapatan per pengakses (Rupiah pendapatan dari iklan/satu pengakses) detikcom pada tahun 2000 sebesar 571,05 menurun menjadi 480,54 pada tahun 2001 sedangkan Kompas Cyber Media meningkat dari 11,63 menjadi 23,52 (Thesis, 2001:61). Indikasi ini menunjukkan bahwa persaingan untuk mendapatkan peraihan pendapatan iklan pada media online berbasis berita bisa dimanfaatkan atau ada celah yang bisa digunakan.

Kesimpulan

Bahwa persaingan pada media online berbasis berita di Indonesia, pada pengamatan 8 (delapan) portal berita, menunjukkan bahwa ada persaingan untuk perolehan iklan. Namun tingkat persaingan yang terjadi bukan antara organisasi yang kecil, melainkan organisasi media yang sangat besar.
Peraihan tingkat efisiensi pada media online berbasis berita lebih banyak karena kedekatan antara pengguna dengan media yang sudah berbasis secara konvensional. Hingga sekarang media yang berbasis atau melakukan integrasi vertical masih tetap eksis bila dibandingkan dengan organisasi yang tidak mempunyai basis organisasi media konvensional.
Sisi teknologi tidak mempunyai pengaruh besar terhadap peningkatan pendapatan per pengakses dari organisasi media online karena pada media online lebih banyak dipengaruhi oleh isi (content) informasi yang ditawarkan oleh media tersebut, apakah sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan pengaksesnya ?. Oleh karena itu untuk merebut pangsa pasar pendapatan dari iklan diharapkan tiap organisasi media online untuk semakin membuat portal yang tersegmentasi atau memiliki sebuah keunikan tersendiri atau kekuatan atau karakter berbeda yang tidak dimiliki organisasi lainnya.
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa persaingan akan memperkuat organisasi media online besar tetap eksis dan organisasi media online yang kecil (tidak mempunyai tradisi bermedia) akan runtuh. Oleh karena itu diharapkan bahwa setiap portal berita menerapkan dan memperhatikan “loyalitas” pengakses sehingga prinsip “one click away” dapat dihindari.

















Pustaka

Albarran, Alan B. 1996. Media Economics “Understanding Markets, Industries, and Concepts”, Iowa State University Press, Iowa..

G.Spheherd, William: The Economics of Industrial Organization, 4th edition, Prentice-Hall, Inc, USA, 1997.

Hagel, John & Arthur G.Amstrong. Net Gain : Expanding Markets through Virtual Communities, Harvard Business School Press, Boston, Massachusetts, 1997.
Modahl, Mary,. “ Now or Never : How Companies Must Change Today to Win the Battle for Internet Consumers”, Forrester Research, New York, 2000.


Schwartz, Evan I. Webonomics “ Nine Essential Principles for Growing Your Business on the World Wide Web”. Bantam Doubleday Dell, USA, 1997.

Sen, Krishna & David T Hill. Media, Budaya, dan Politik Di Indonesia, Institut Studi Arus Informasi, 2000.

Straubhaar, Joseph & Robert La Rose. Media Now : Communications Media in the Information Age, 2nd Edition, Wadsworth, Belmont USA, 2000.

Yuliar, Sony. Et.al,. Memotret Telematika Indonesia : Menyongsong Masyarakat Informasi Nusantara, Pustaka Hidayah, 2001.

The Indonesia Cyber Industry & Market Research and analysis team. Indonesia Cyber Industry and Market, PT Elex Media Komputindo, Jakarta, . 2001.

Thesis, Benedictus Arnold S,. Pengaruh Struktur Pasar terhadap Kinerja Industri Portal Berita di Indonesia, Universitas Indonesia, 2001.

[1] Penyendiri disini bukanlah diasosiakan sebagai teralienasi, melainkan aktivitas yang bisa dilakukan sendiri oleh individu tersebut dirumah, baik dalam melakukan bisnis, aktivitas pribadi atau lainnya. Personal Komputer yang bisa di bawa secara mudah dari satu tempat ke tempat lainnya ; menyebabkan manusia seakan terhibur dengan fitur yang ditampilkan di layarnya karena sifatnya yang terintegrasi, seperti integrasi antara televisi dengan internet, internet dengan radio dan televisi, surat kabar dengan internet (on-line news), dan lainnya.
[2] Pageviews adalah jumlah pengakses yang melihat fitur pada sebuah portal dengan melihat tidak hanya pada fitur yang awal, tetapi ia melihat juga fitur lainnya yang termasuk di dalam fitur tersebut atau dengan kata lain, pengakses melihat lebih luas atau jauh ke dalam sebuah fitur.

Tidak ada komentar: